SAUDADE





Aku sudah lupa bagaimana rasanya tertawa. Bahkan terkadang kulupa, bagaimana leganya menangis. Bagai tercabik-cabik ketika dua hal itu terasa—percuma.

Mungkin kau sudah memaafkan. Sebuah kesaksian yang sayup-sayup kudengar dari gesekan bunga Plumeria. Tapi tak bisa kututupi bahwa rasa salah yang berlipat ganda ini masih terselip di antara daun-daunnya. Dan seperti biasa, sore pun berakhir di sebuah kegamangan.

Seketika hembus napasku terasa hilang , membaur bebas dengan dinginnya udara. Tempat ini memang selalu punya kemampuan untuk meresonansi kenangan.  Dan di setiap derap langkahku yang terukir di sini, bagai nada yang sedikit terdengar sumbang di telinga.  Bahkan harus kuterima dengan ikhlas bahwa aroma tanah sudah sedikit mengalahkan aroma khasmu. Meski tetap saja, angin masih membawa derai tawamu, menggema dan pecah di telinga. 

Aku datang,Ayah. Ugh! alveolus-ku serasa menyempit seketika saat langkahku terhenti.  Tulisan namamu di depan ini terukir di sebuah marmer berbentuk kotak. Aku benci mengatakan ini, tapi—ini pemandangan paling menyedihkan dalam hidupku. Mungkin iya ini terlalu cengeng, karena sungguh teks namamu itu menyedak, dan meredam suaraku.

Aku menutup mata, di situ ada kau yang tak pernah jauh sebetulnya. Hanya sedekat kening dengan mata. Tak jauh. Tapi selalu begini, mengulang langkah kembali ke sini selalu saja menghadirkan setitik—luka. Rasanya,untaian kata dariku mungkin sarat akan pernyataan pahit yang mengalun bagai lagu bertema kesedihan. Dan sungguh,  ini tak bisa kusebut sederhana.

Merindukan dirimu,sangat.

Ah, tak bosan rasanya dengan rasa panas di mata yang familiar ini. Aku berani bertaruh, hitungan detik setetes demi setetes materi bening nan basah akan melesak dari pelupuk mata dan jatuh bebas di udara. Tapi ya—seperti yang pernah kau bilang, memang tidak ada manis yang sempurna,terlalu manis akan membuat sakit gigi, ya kan?

Aku memaksa tersenyum. Kecut. Secuil usaha menyembunyikan tangis sebenarnya. Aku tahu, berapa kali kumenangis dan meronta hingga mungkin mengusik telinga-Nya, semuanya harus kuterima dengan segenap rasa ikhlas di dada. Dunia ini memang tempat di mana tidak semua hal bisa berjalan dengan sempurna. Maaf, terkadang ada kalanya kubagai gadis kecil yang tak pernah habis merindu pelukanmu. Rinduku selalu bermekaran manakala berputar di pusaran sepi dan wajahmu yang muncul seketika—Ayah.

Berbahagialah kau di sana.

Aku terdiam, seberapa jauhkah jarak hati kita sebetulnya? Mungkin hanya sebuah dinding tipis transparan yang menjulang nyata, mungkin bagai melihat satu sama lain tapi tak bisa melintasinya. Ya, seperti yang tadi kubilang sebetulnya kita tak pernah jauh. Sedekat kening dan mata. Iya—begitu.

Kutatap meja kerja Tuhan yang membentang di atas. Kecil sekali rasanya aku, duduk mencangkung di bawah kolong meja-Mu dengan mata sembab. Melihat mendung yang bergelayut dan serpihan-serpihan putih yang mulai abu-abu  itu masih melayang-layang di udara. Matahari mulai jatuh perlahan. Tiba-tiba kuingat melewati sunset bersamamu, ada ibu juga adik-adik dan keluarga kecilku, melihat matahari yang kuningnya mulai memudar bagai tablet everfescent yang melarut dan menyebar warnanya di lautan. Menikmati debur ombak yang sesekali menjilat ujung jari kaki dan meninggalkan pasir-pasir di antaranya.

Ah, sebuah kenangan. Cerita yang masih lekat dalam pikiran. Dan aku tersenyum. Ya, setidaknya banyak cerita yang kau tinggalkan. Membuatku sedikit bernostalgia, meski terkadang ada beberapa cerita yang membuatku bagai ditikam rindu yang menelusup hingga ke nadi.

Syuut! Kurapatkan jaketku. Rupanya angin membuat saraf-saraf krause-ku berlomba-lomba berteriak dan mengetuk-ngetuk seluruh indera perabaku. Seperti cubitan-cubitan kecil. Sore ini cuaca mulai tak bersahabat. Kuterdiam sesaat sebelum beranjak pergi, membiarkan hati menyampaikan sendiri rasaku dengan bahasanya. Di akhir itu, kurapal untaian doa untukmu.

Dan aku menangis lagi. Bukankah memang semua orang tidak siap dengan kehilangan?

Itu—setidaknya aku sedang melakukan sebuah pembelaan diri, sebuah kejujuran bahwa iya, aku merindumu teramat sangat. Maaf…

Kuberdiri, bergerak pelan dan menggeser letak kaki dengan berat. Lagi-lagi angin membawa aroma tanah yang melesak, menyerusuk masuk secara paksa ke rongga hidungku, berdifusi di alveolus-ku dan keluar cepat sebagai desahan dari mulut. Sedikit lega. Mengunjungimu seperti suntikan semangat untukku. Terima kasih.

Kutinggalkan tempat ini. Selangkah, dua langkah, tiga langkah kuinjak titian batu di atas rumput embun penutup tanah. Kupalingkan wajah padamu sekali lagi, ya—aku lupa tersenyum untukmu. Seulas bulan sabit pun terukir di wajahku untukmu. Apa kau memaafkanku yang terlalu cengeng ini? Terlebih lagi, untuk hal-hal yang belum bisa aku berikan untukmu.

Tiba-tiba di sebuah tanah kering di depanku daun-daun berjatuhan.

Kau memaafkanku kan…itu kan jawabanmu, Ayah? Angin mendesah pelan, membawa rerasa yang tak biasa.

Entah kenapa sore ini aku hanya ingin tersenyum. Rasanya angin membawa jawabanmu, ini damai, seperti kembali ke cerita lalu, di antara dua cangkir kopi panas yang selalu kita nikmati di teras rumah seperti dulu. Menertawakan hal-hal sepele dan mendengarkan ceritamu yang terkadang membosankan, tapi rupanya kini sangat kurindukan.

Semoga setelah ini dunia tak semengerikan yang kubayangkan, Ayah. Bukankah Damar adalah nama yang kau selipkan untukku, bukankah artinya penerang. Bahwa segelap apapun di depan, aku selalu bisa menerangi orang-orang yang kusayangi, bahkan menerangi diriku sendiri.


Thanks, Dad. I will deeply miss you. i'll be ok. promise!

 

Optimisme adalah pola pikir ceria yang memungkinkan sebuah poci teh menyanyi meskipun terisi air panas sampai ke mulutnya. (anonim)



---end---


*saudade adalah  kata dari bahasa Portugis yang tidak dapat diartikan ke dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia. Yang artinya adalah perasaan merindukan seseorang atau sesuatu yang kita cintai, namun kini sudah tak ada.

*plumeria: bunga kamboja



#pojokamar, 190214
#iralyra

0 comments:

Post a Comment

Linkie ♥

iralyra

friendly, nice n kindheart person ... i think ... haha just be my friend n then u will know

Text Widget

Welcome!

Recent Comments

Powered by Blogger.

Followers

Popular Posts

 

Flickr Photostream

Twitter Updates

Meet The Author