Photo by Rinrin Indrianie
“Ya ampun, sanaan dong! Sempit banget nih!”
“Ah, kamu juga!”
“Ini tempat penuh banget yah,
padahal sejak pagi hingga siang tempat ini agak sepi!”
“Iya, mungkin karena mendung.”
“Jadi, ceritanya kita menunggu
giliran, nih?”
Hening. Tak ada yang berani
menjawab. Aku tersenyum sendiri mendengar keributan mereka. Sore ini mendung
bergelayut. Serpihan-serpihan putih yang mulai berubah abu itu
melayang-layang di udara. Aku mengintipnya dari balik kaca gerobak. Ya,
biasanya jika cuaca mendung seperti ini memang enak untuk memanjakan perut. Apa
sekarang waktunya?
Prang! Aku terkesiap. Lamunanku buyar
sudah. Seorang anak di pojok sana memecahkan tempat berwarna putih. Semangkuk tumpah
sudah.
Kemudian pandanganku kembali
tertuju pada pria di depanku. Sore ini dia sibuk sekali, tidak seperti pagi dan
siang tadi yang hanya melamun saja. Tangannya sibuk bergerak mengambil ini dan
itu, meracik bumbu, menuang kuah.
“Ah, tolong!” Temanku menjerit. Baru mau
menoleh, eh tunggu..tunggu, jangan aku dulu! Tidak..tidak! argggh!
Bres! Arghhh panas!
Kini aku sudah ada di dalam
mangkok putih berkuah panas, bersama dengan beberapa teman lain yang bernasib
sama. Aku melihat mata nyalang di atas. Liurnya hampir saja menetes. Rupanya
inilah akhir hidupku.
Sayup-sayup terdengar suaranya. “Sumpah ini baso
enak banget!”
Arghhh!
---- end ----
total: 200 kata
Postingan ini diikutsertakan dalam MFF#39: Bowl of Balls
Dengan senang hati menerima kritik dan saran level pedes sekalipun :D
Thanks


hehe... kisah si bakso :)
ReplyDeletexixixiixixi iyaa mba, nasibb nasibb :D
Deleteada krisan apa mba, maklum baru bikin FF :D