Aku memelukmu dalam doa. Kubersujud di sini, kamu di sana. Selama masih di lintasan yang sama biarkan doa kita bertemu. Terima kasih karena masih menyebut namaku dalam doamu.
“Kapan Ayah pulang?” tanyaku ditelepon.
Nanti, setelah dapat uang ….”
“Kapan?”
“Doakan saja secepatnya.”
Kemudian sambungan telepon itu berakhir. "Cinta itu sabar ...." lirihku pada diri sendiri di bawah bulan pucat yang menggantung tenang. Kembali aku membaca satu pesan di smartphone dan bergeming melihatnya.
“Miss you always, dear.”
Aku menarik napas dan membuangnya perlahan, “Cinta itu sabar ….” desisku pelan sambil menatap langit, merayunya untuk menghiburku lewat kerlip bintang. “Hey bintang! ini konyol bukan?! Mana bisa sekarang kutertawa sekalipun ribuan dirimu itu salto!” sungutku sambil mengangkat pantat dari kursi kayu di halaman belakang dan segera beringsut menuju dapur, mengambil segelas air mineral dan glek, menenggaknya.
Dia selalu berkata bahwa ia harus pergi. Kondisi ekonomi yang memprihatinkan beberapa bulan ini, membuat ia memutuskan mengambil peluang di luar kota, yaitu Kalimantan. Dan aku tak bisa berkata-kata …. Bagaimanapun kami memang membutuhkan uang.
“Cinta itu sabar ….” lirihku sekali lagi.
Dan kini sudah lewat tengah malam, sendiri tanpa anakku yang sedang liburan juga suami yang tinggal berjauhan ternyata sepi juga. Padahal di beberapa detik yang lalu suara kami sempat beradu. Setelah itu rasanya di sini hanya hening, dingin … selebihnya rindu.
Rupanya tanpa dia, memang banyak hal sederhana yang terasa begitu istimewa. Kurindu saat segala sesuatunya berjalan lancar, sebelum ini. Cerita sederhana yang memabukkan. Ada sapa manis dan kecupan di setiap pagi dan malam. Suara games yang beradu dengan teriakannya. Lagu yang menyusup pelan di telinga kami saat berdua di satu earphone. Suaraku yang menggema saat menemukan kebiasaan menyebalkannya , menaruh handuk sembarangan atau memakai pasta gigi dan lupa menutupnya.
Masalahnya ya begini, saat semuanya tak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Cerita sederhana tadi selalu tampak di semua tempat itu.
Tapi untungnya ia tak pernah membiarkanku resah terlalu lama. Meskipun hanya sekedar telepon, sms ataupun BBM. Seolah ia tahu, bahwa menunggu itu bagian yang paling sulit untukku.
Dan aku tahu ini bukan persoalan yang mudah, untukku, anakku dan dirinya. Dipisahkan oleh jarak yang lumayan jauh itu termasuk keadaan yang paling tidak diinginkan. Seolah-olah akan banyak masalah yang datang.
Bahkan terkadang aku tak mengerti kenapa ia memutuskan pergi. Namun saat itu ia berkata, “Bunda tak perlu mengerti semua hal, Bun. Hanya cukup percaya … percaya sama Ayah, ya?”
Percaya. Begitu katanya.
Lalu suatu malam, “Maafin Ayah ya, Bun … banyak hal yang Ayah belum bisa berikan untuk kamu, rasa-rasanya kamu sudah kehilangan banyak hal karena menikah dengan Ayah.” ucapnya.
Aku menghela napas. Sedikit terharu, “Mungkin ya Bunda kehilangan banyak hal, tapi jika tak bersamamu, mungkin Bunda akan kehilangan lebih banyak lagi.”
Sepertinya dia tersenyum di sana.
“Ngomong-ngomong, sekarang pake baju apa, Bun.”
“Daster!”
“Panjang atau pendek/”
“Hyaaa, makanya pulang sini! Lihat sendiri!”
***
Dan beberapa hari kemudian ia menepati janji. Kami bertiga berpelukan sambil tertawa-tawa. Terima kasih untuk segala usaha yang mungkin dunia tak pernah melihatnya, tapi aku jelas melihat dan merasakannya.
--- end ----

0 comments:
Post a Comment