[CERPEN FIKSI] JUDUL : Ichigo Ichie ‘One Moment’


CauseI’m lonely and I’m tired
I’m missing you again oh no
Once again….



Rima hujan mendadak memilukan.  Sama  pilunya dengan lantunan Dear God, Avenged Sevenfold di telinga. Vocal Matt Shadows kubiarkan menyusup membawa galau yang merayap pelan. Mengusik sisi melankoli dan membiarkan hati ini dilumat kisah-kisah absurd. Tak penting. Namun seolah ini genting. Krisis dan—well, sepertinya ini memang—galau.

Bisa dibilang mendengarkan  lagu mellow  bin galau saat hujan turun dengan brutal seperti sekarang adalah pekerjaan paling bodoh sedunia. Tak berguna, tak ada arti, sia-sia, menyedihkan. Yea..you name it! Yang jelas engga banget. Harusnya sih. Tapi—

Di sinilah aku sekarang.  Mengeja sepi di sebuah area perkantoran.  Duduk di sebuah taman yang ada di tengah gedung-gedung menjulang tinggi yang gagal menggapai langit.  Ada beberapa gedung di sini, dan spot terbaik tempat ini ya taman ini. Sebenarnya tempat ini bukan sebuah taman, karena tak ada bunga-bunga di sini. Hanya pohon-pohon hijau berukuran sedang dan beberapa bangku-bangku besi yang diletakkan di beberapa sudutnya. Dan tentu saja aku  ditemani sebuah earphone yang mengait erat ditelinga.

..5…6..7..8…                                         

Aku berhitung dalam hati. Bola mata ini  menggelinding bebas. Dari sudut kanan kemudian ke  sudut kiri. Beredar ke samping dan kemudian memilih untuk berfokus ke sebuah gedung sambil mendengarkan rima hujan dan vocal Matt bersahut-sahutan. Hey,  bisa menebak tampilan wajahku? Yup benar, kusut. Sudah hampir satu jam seperti ini, duduk di sebuah bangku besi  menghitung pria berkemeja hitam yang sejak tadi sengaja kucari di tiap sudut. Barangkali korneaku menangkap satu sosok itu. Namun nihil.

Rasanya ini mungkin sia-sia. Tapi, entahlah. Aura tempat ini selalu mengundang rasa penasaran. Ia memuncak, menyedak ke otak. Seketika membuat rinduku menghentak-hentak.  Ini fenomena gawat sebenarnya, karena masih selalu berharap bisa disapa oleh satu keberuntungan. Atau mungkin kebetulan. Ya, sebut saja kebetulan yang disengaja Tuhan.

Tuk! Satu jitakan kecil dari tangan sendiri kuhadiahkan untuk kepala ini.

Bodoh!  Suara itu menggema di kepala.

Padahal sudah jelas tak ada kebetulan di dunia ini. Menunggu kebetulan itu mungkin sama bodohnya dengan menghitung pria berkemeja hitam yang sejak tadi lalu lalang depan mata. Hey, hidup ini pilihan bukan?  Ya tentu saja, dan mungkin saat ini menjadi bodoh adalah pilihanku. Sementara tak apalah. Dan sekarang akhirnya aku tahu soal ichigo ichie. Meet someone..once in a life time. Aku bahkan belum sempat mengatakan padanya bahwa ia itu teman yang menyenangkan

Yang jelas hujan tampak sangat serius, seserius wajahku. Sedikitpun tak ada isyarat  bahwa hentakan dari tiap rinainya akan usai. Rimanya semakin brutal mengaduk emosi. Benakku mengembara di antara derai tawa wanita-wanita di sampingku. Berisik sekali. Membuyarkan lamunan-lamunan sederhana tentang aku, pekerjaan dan si pria berkemeja hitam. Sialan!

Akhirnya aku memilih pindah tempat.  Berjalan beberapa langkah ke depan sambil melipat kedua tanganku kemudian duduk berseberangan dengan pria yang sedang cengar-cengir tak jelas di depan layarsmartphone yang ada di genggamannya. Kemudian tak lama temannya datang menegurnya. “Heh, pacaran mulu lo, dicariin bos tuh!”

Haha..aku jadi penasaran, apa semua orang yang jatuh cinta bakal sebodoh itu? Aku menunduk sambil tersenyum geli.

Well, itu bisa jadi iya, buktinya saat inipun aku sedang melakukan kebodohan. Meski ini bukan tentang jatuh cinta. Hanya terjebak aroma hujan yang selalu membawa ingatanku padanya. Rupanya, dari waktu ke waktu rima hujan memang selalu sama. Tak jauh-jauh dari sebuah harapan, kenangan juga kesedihan. Dan tanpa meraup ijin dariku ingatan di kepala ini berjalan mundur ke satu masa di pertengahan tahun lalu.  

Ini tentang pertemuan dengannya. Pria berkemeja hitam yang kemudian kusebut ia si pria beraroma hujan. Aku tak tahu apa ini terdengar berlebihan. Aku hanya tak tahu kalimat yang pas untuk menggambarkan dia.

Sore itu gerimis.  Dan kupikir secangkir kopi adalah ide bagus.  Dan kedai kopi itu  letaknya tak jauh, masih di sekitar area perkantoran ini. Tepatnya seberang gedung kantor.  Aku berjalan cepat di bawah payung menerobos hujan,  kemudian sampai di sana dengan keadaan sandal dan celanaku yang sedikit basah di bagian bawah.  Aku berdiri sebentar di luar, menutup payung kemudian masuk ke kedai tersebut sambil menyelipkan payung di tempat khusus yang ada di pojok ruangan.

Seorang pegawai café itu tersenyum padaku. Aku membalasnya. Itu bukan sebuah senyuman tanpa arti. Itu sekedar tanda bahwa aku memesan pesanan yang sama seperti biasa, Extreme Coffe.


Kemudian aku duduk di sisi jendela. Melemparkan pandangan keluar sana dan melihat bulir-bulir hujan yang menempel di kaca-kaca. Lima menit kemudian  pesananku datang. Kucium aromanya yang perlahan membelai cuping hidung.  Memeluk cangkirnya dan merasakan hangat yang mulai mengetuk-ngetuk dan akhirnya merambat pelan dari telapak tanganku. Desir hangatnya terasa. 

Aku mengangkat wajah yang sejak tadi hampir tenggelam dalam cangkir karena menghirup aroma kopi. Pupilku membesar, kupaksa ia beredar ke semua sudut. Beberapa meja bundar tersebar di dalam ruangan. Kursi-kursi besi pun bertengger mengelilinginya. Ada pula lukisan-lukisan abstrak yang tergantung di dinding. Musik mengalun sayup, mengisi seluruh ruangan dan beradu nada dengan suara hujan. Lalu fokusku berhenti di satu objek. Arah jam dua dariku. Seorang pria berkemeja hitam polos dan jeans biru belel. Ia duduk bersandar sambil menatap lamat-lamat padaku lalu—tersenyum. Anehnya, bibir ini otomatis bergerak satu centi ke kanan dan satu centi ke kiri. Sedang tersenyumkah aku? Membalas senyumnya?

Great! Sejak kapan aku suka tersenyum pada orang asing! Aku mengutuk tingkah geli barusan. Kemudian menunduk, pura-pura mencari sesuatu di tas. Syal! Ah ya syal. Kuambil kain biru itu dan kulingkarkan di leher, setidaknya merah jambu di pipi ini bisa sedikit tertutupi syal. Kuberanikan diri melirik sebentar ke arah jam dua. Dan—ya, dia masih saja melihatku.

Dia mungkin seusiaku, bisa jadi lebih tua sedikit atau bisa jadi lebih muda. Yang jelas bukan om-om. Potongan rambutnya biasa, cepak sedikit gitu lah. Tampan juga. Mungkin itu yang jadi masalahnya. Tatapannya itu bagai lumpur isap, semakin berusaha menggeliat melepaskan diri,  rasa-rasanya semakin terisap ke dalamnya. Ini aneh. Masa secuek aku bisa-bisanya bertingkah begini. Aneh. Aneh. Aneh!

Aku baru mau sebar gossip aneh ini pada salah satu sahabat, ketika dia_laki-laki itu_ tiba-tiba muncul begitu saja kemudian menjatuhkan tubuhnya di kursi depan. Demm! Ngapain coba orang ini?

“Boleh ya saya duduk di sini?”

“Bukannya memang sudah duduk.” balasku. Bola mata ini bereaksi cepat. Menyapu pandangan dari atas sampai bawah. Kulihat tadi ia tinggi menjulang, mungkin 180, dada bidang dan titik-titik hujan masih tersisa di rambutnya. Bajunya pun sedikit basah,  sepertinya tadi ia sempat terkena hujan. Tubuhnya tak membawa aroma parfum. Apayah—kupikir ini seperti aroma hujan. Bau tanah dan air yang menyatu.  Entah, mungkin juga inderaku yang salah. Jangan-jangan ini cuma bau knalpot! Yang jelas bukan wangi pengharum mobil. Apalagi Magnetism For Men dari Escada. Bukan banget.

Kemudian dia tergelak. Matanya terlihat lebih sipit dan titik-titik biru di sekitar pipinya itu sudah pasti besok akan memaksa ia untuk mencukurnya.

“Setidaknya hujan begini gak bikin jadi tambah menyedihkan ya, duduk tanpa ada teman.” ucapnya

“Menyedihkan? Engga tuh!” sanggahku jutek

“Bukan kamu, tapi dia.” Dia mengangkat ibu jarinya ke udara tak lebih dari dadanya sambil menunjuk object yg dimaksud. “Arah jam sebelas darimu, belakangku.” sambung dia lagi.

Dan aku menurut saja. Melempar pandangan ke arah yang dimaksud. Seorang gadis sedang menangis sendirian.

“Kenapa kamu ngga ke situ aja, daripada ke sini.” tanyaku

“Jadi pahlawan kesiangan dan mendengar dia bilang ngga apa-apa’. Bukannya semua perempuan kalau ditanya akan begitu jawabnya. Bosan!”

“Dan kamu pikir saya gak lebih membosankan dari perempuan itu?”

“Setidaknya kamu gak nangis.”

“Tapi saya bisa mengusir loh.”

Hahaha. Dia tertawa, hingga menggema. Aku masih menatapnya yang sedang tertawa tak jelas itu. Jarak kami duduk hanya terhalang meja. Satu hal yang kutahu, manusia satu ini sangat banyak bicara. Suaranya beradu dengan musik dan hujan. Belum lagi tawanya yang terdengar norak bagiku.

“Kerja di mana?” selidiknya         

“Faber Caspell, Key Account, gedung B lantai 15.Sudah dua tahun.” Aku menjawab berusaha selengkap mungkin, menghindari pertanyaan dia yang ia lontarkan satu-satu. Aku menangkap gelagat modus. Terlalu banyak basa-basi. Malas meladeni tapi rasanya sulit sekali beranjak dari sini.  Kalau pun ada yang harus pergi, pastinya itu dia dong bukan aku.

“Posisi itu saya paling suka, bagian penjualan dan promosi untuk di tiap outlet Key Account, selebihnya menyebalkan.”

Aku menyesap kopi. Mengambil kentang yang masih setengah piring dan memasukkannya ke mulutku.

“Kok tahu kerjaan saya, kamu kerja di mana?” tanyaku dengan secuil kentang yang tiba-tiba saja melompat keluar dari mulutku.Shit! Bikin malu!

Dia tertawa. Lebih tepatnya menertawakan.

Jadilah sore itu temanku bertambah. Selain secangkir kopi dan sepiring kentang, juga ada manusia satu itu. Aku malas bertanya namanya saat itu. Tak penting bagiku. Hanya cukup tahu bahwa ia sedikit menyebalkan dan sok tahu namun belakangan kusadari dia juga menyenangkan

Dan setelah hari itu, kami sering bertemu di situ setelah jam kantor. Tak sering sih. Tapi dalam satu minggu pasti ada saatnya kami bertemu. Hanya obrolan-obrolan sepele tentang kegiatan sehari-hari. Juga menjadi saksi si perempuan yang sering menangis itu yang akhirnya kami berdua tahu bahwa ia diselingkuhi kekasihnya. Mereka pernah beberapa kali bertengkar di situ, kemudian kami berdua dengan bodohnya berpura-pura menjadi seorang dubber bagi mereka. Konyol! Oiya belakangan aku tahu ia bernama, Bimo. Gedung tempat ia bekerja ada di sebelah gedungku. Ia suka sekali kemeja hitam, kopi juga hujan. Selain kutahu ia sering berkata tentang ichigo ichie.

“Ichigo ichie is one moment”  katanya. Once in a life time. "Seperti aku, bertemu kamu." begitu katanya, padaku.

Saat itu aku merasa  perkataannya seperti sesuatu yang terdengar sweet di telinga. Halah!

Dan sekarang, sudah sebulan ini ia menghilang.       

Mungkin ini klise.  Semacam ingin menemukannya saat ini juga. Apa ini rindu? Mungkin saja, yang jelas rasanya mirip seperti itu. Dan sialnya, kontak dia mendadak hilang dari friendlist  BBM. Ponselnya pun tak aktif. Berkali-kali ingin berlari menuju kantornya tapi tak pernah kulakukan. Mungkin saja ia sudah tak lagi bekerja di sini. Jika iya, keterlaluan sekali tak bilang padaku jika memang sudah resign.

Aku menghela napas. Dan baru sadar kalau aku sudah ada di depan kedai kopi biasa. Ini kebodohan kedua setelah tadi aku menghitung pria berkemeja hitam. Mudah-mudahan saja nanti malam aku tak berjalan dalam
tidur mencarinya.

Aku masuk ke dalam kedai. Tersenyum seperti biasa, dan duduk di tempat  biasa pula.  Yang tak biasa hanya karena tak ada dia. Hanya bisa pasrah saat masa lalu menarik sebagian ingatanku. senyumnya yang bermain-main di kepala dan gelak tawanya yang menggema di telinga. Bahkan sorot intimidasinya yang bagai lumpur isap masih jelas kuingat. Ini mungkin aku sudah sedikit gila. Kupikir aku sudah jadi korban kejahatan kangen yang terkutuk! Duh, jangan sampai dia tahu.

Pegawai kedai mengantarkan pesanan. Ia meletakan cangkir tepat di depanku. “Mba, beberapa hari lalu ada teman mba ke sini.”

Bleb! Jantungku melompat keluar dan terjun bebas hingga terjerembab di lantai, namun langsung kupungut kembali dan mengontrol napas ini. Itu pasti dia.

“Dia menitipkan ini buat mba.”

Aku ambil sebuah kartu berwarna biru dari tangan gadis ini. “Thanks ya” Dia mengangguk dan meninggalkanku.

Kartu ini ia lipat dua. Kubuka dan deretan huruf berbaris di sana. Tulisannya rapi juga.

Dee,

Aku baik-baik saja, kalau kamu mau tahu. Dan semoga kamu pun baik-baik saja. Ponselku hilang, karena itu aku ngga bisa hubungi kamu.

Benar saja Dee..rupanya jarak memang pendesak ulung. Sampai-sampai seorang Bimo harus rela menulis surat seperti ini. Memberi kesempatan aksaraku mengirim pesan singkat lewat matamu.  

Maaf, karena pekerjaan, aku jadi tak bisa bertemu denganmu seperti biasanya. Sejak sebulan lalu aku ada di Kalimantan. Kemudian beberapa hari lalu berangkat ke korea dan akan menetap di sana selama satu tahun.
Jangan marah dulu. Tadinya aku berniat pamitan denganmu, hanya saja, kamu sedang di luar kantor.

Padahal dalam hati ini sudah mengantri puluhan sesak yang minta dilepaskan. Jadinya, aku hanya bisa mengingat jutaan detik yang lalu di mana bola mata kita saling beradu. Hingga pada akhirnya hanya meninggalkan nada yang sesak. Buatku ini alarm, bahwa rindu rupanya sudah beranak pinak. Membuatmu ada di setiap detak.(takjub, aku bisa membuat tulisan lebay begini. Silahkan tertawa sepuasmu!)

Dan ya--aku tertawa. kemudian lanjut membaca lagi.

Tak apa. Anggap saja sekarang kita sedang menyublim mimpi masing-masing. Kupikir berjauhan begini, baik juga. Setidaknya aku bisa membatasi diri dengan batas-batas yang memang ada.  Semoga setelah ini aku bisa mengantongi sebuah temu lagi denganmu.


Mungkinkah ini doa yang terlalu tinggi? Atau, apa menurutmu aku sudah terbang  berpuluh senti dari bumi tempatku menapak?

Miss you, Dee. Dopamine-ku bertambah banyak hingga tak terbendung. hehe

Dan ini mungkin terdengar egois, tapi..semoga kamu mau menungguku.



Will you?


(..salam ichigo ichie..from: Bimo)



Ia menuliskan beberapa angka di bagian bawah suratnya. Mungkin itu nomor ponselnya yang baru. Kemudian, entah kenapa, tiba-tiba aku ingin bersorak girang. Rasanya sedikit lega, setidaknya aku tahu ia di mana. Soal menunggu? Aku mendesah, kemudian menelungkup di meja mencoba lebih dekat dengan posisi hati ini berada. Sayup kudengar ia berkata..



Yes, I will, Bim.

I will....




--end--















0 comments:

Post a Comment

Linkie ♥

iralyra

friendly, nice n kindheart person ... i think ... haha just be my friend n then u will know

Text Widget

Welcome!

Recent Comments

Powered by Blogger.

Followers

Popular Posts

 

Flickr Photostream

Twitter Updates

Meet The Author