SALAM KANGEN UNTUK MAMA


Malam melarut. Bulat berkarat merengek merindu bintang di langit hitam. Dan aku, di birai  jendela, sebuah spot terbaik di sudut rumah. Duduk di atas bangku kayu, menghabiskan kopi sambil menumpahkan setetes demi setetes materi bening dari dua kelopak mata.  Ada seutas senyum milikmu mengekor di jejaknya.

Segera sehat, Ma. Segera kembali di dekatku!  Kita kembali menari di bawah terik mentari. Menebar riuh dan beradu riang pada sebuah canda yang kita tak pernah tahu di mana letak lucunya. Hanya saling menertawakan, dan tak jarang kumengaduh padamu.

Begitu saja. Ya, begitu saja. Sesederhana itu.


Srott! Kubuang cairan bening yang melesak di moncong, membungkusnya dengan tisu-tisu dan melemparkannya hingga mendarat pada sebuah bidang datar di depan. Jika kuhitung, jumlahnya sudah lebih dari—lima buntelan. Ah, cengeng sekali. Entahlah, mengingatmu yang kini sedang kurang sehat sementara ku tak bisa di sisimu, membuat detik-detik yang memintal menit terasa lamban, bahkan nyatanya menit-menit yang berlalu hanya merajut benang-benang gusar di hatiku.

Blub blub! Dua bola mata ini menggelundung, melompat ke tiap-tiap sudut dan terhenti pada bidang datar pucat dan bisu, di mana tergantung foto usang di situ. Mata-mata penuh kenang, senyum-senyum indah, wajah-wajah bahagia. Syuuut! Blass! Ada desir menggulung dada,  saat kornea ini terpaku pada senyum-senyum penuh cerita. Pada banyak kisah di tahun-tahun silam ingatanku kembali. Tes. Tes. Tes! Lagi dan lagi titik-titik asin itu jatuh. Ah, aku rindu.


 Kuhapus kasar air mata yang menuruni pipi. Napas ini naik turun. Dadaku sendat. Sejenak ada angin yang entah darimana melintas menyapu wajah, saraf-saraf krause mulai aktif beraksi. Aku kedinginan, mungkin juga tersakiti oleh tikaman rindu yang tiba-tiba menggelinding pulang, kembali menghantam sisi piluku yang sudah lama tertutup debu.

Ini aneh, selarut ini tak ada kantuk yang luruh, bahkan air mata sudah mengering dengan sendirinya. Kopi yang mendingin juga sebuah foto yang tak lepas dari tikam mata . Yang tertinggal hanya satu rasa—aku rindu mama. Juga rindu—Ayah.

Kutekuk wajah, ingin melipat-lipatnya lalu kumasukkan amplop kemudian secepat kiriman kilat, aku sampai di telapak tanganmu, menunggu kau membuka lipatan kertas ini dan kepalaku menyembul keluar lalu melihatmu tersenyum, sambil dengan riang gembira berucap : taraaa anakmu datang!


Konyol!


Yup, sedikit.


Fyuhh! Kulepas gas buang yang sempat membuat sesak alveolusku. Kini ingatanku kembali ke tadi siang, saat mendengar lirih suaramu di ujung telefon.  Vokalmu bergetar memanggil namaku. Aku terdiam sejenak, mendengar saksama kata demi kata darimu. Kumenengadah ke atas, tak ingin kau mendengar suara yang parau ini karena  menahan tangis. Duh, sebesar ini diri ini masih saja bagai anak cengeng yang merindukan pelukanmu. Bahkan ketika kurindu hangat peluk Ayah, diri ini hanya tinggal berlari menuju pelukmu. Lalu, kemana kini tangisku bermuara? Ketika pelukmu terasa jauh. Oh, Ma aku rindu.


Kini, aku hanya bisa meniti jarum jam, merasakan tikamannya di tiap-tiap detak. Jantungku berdetak degap degup dengan notasi tak beraturan. Wajahmu terbayang-bayang. Kau tak bisa lepas dari ingatan.

Krek! Kusibak sedikit tirai jendela. Memandang langit hitam dari sisinya, kuharap ada bintang malam ini. Sedikit tak apa, mungkin lima atau tiga. Lalu, ditiap sudutnya kugantung rasa-rasa di dada untuk kau baca. Ah, aku lupa, kau selalu saja bisa membacaku bukan? Bahkan mengendus resah yang berserakan bagai remah-remah kue ini dari jarak ratusan bahkan mungkin ribuan kilometer. Dan aku, berlindung di balik kerling matamu terlebih lagi pelukmu. Ya, selalu begitu.

Kucium selembar foto yang baru saja dikeluarkan dari dompet. Memandangnya sesaat, kemudian bergerak menuju tempat rebahku, menyimpan fotomu di sisi bantal.

Selamat tidur, Ma. Doa dan mataku menjagamu. Mari sejenak kita lupakan, luka-luka yang tak bisa kita tolak. Selamat malam, Ma. Have a nice dream.


Salam kangen, dariku. Your ‘not little anymore’ girl.


Jangan berhenti mendoakanku, Ma. Doamu menjelma cahaya yang tak hanya menyala kala gelap. Bahkan ketika terang terlalu menyilaukan.



--- end ---

#iralyra#special for my mom



0 comments:

Post a Comment

Linkie ♥

iralyra

friendly, nice n kindheart person ... i think ... haha just be my friend n then u will know

Text Widget

Welcome!

Recent Comments

Powered by Blogger.

Followers

Popular Posts

 

Flickr Photostream

Twitter Updates

Meet The Author