Pinggiran kota,
Lelaki berjalan terseok-seok di
tengah gerimis
Duka bergelayut di pundak, dan
tetes air basahi wajah lewat rambutnya
Hujan menderas, rindu berkecipuk
pada kubang basah
Tahukah dia peluk yang kutitip pada
angin selatan?
Ketika utara tak bisa lagi
menyambut, bahkan barat menolak
Pada hujan yang brutal, rindunya
menderas lagi.
Ah, bukankah cinta itu kerumitan yang cantik?
Kubertanya ...
Pada rima hujan yang tak lagi sama.
Pada rima hujan yang tak lagi sama.
[Depok, January 2014]


0 comments:
Post a Comment