Bagai menitipkan gerimis di kedua mataku
Kulayu di wajah pagi, menyesap embun sendiri
Lembaran cerita, terkadang biru-hitam bahkan merah jambu
dan kamu ada di antaranya
Pikirku melayang, semoga tempat rebahmu kini berpelangi
Selamat pagi, siang dan malam, semoga warnanya memelukmu
hingga kau tak lagi sepi
Tahukah kau?
Sebisu-bisunya rinduku, ia bisa lebih kuat dari badai
Tapi kuhanya pasir yang tersapu buih
Menepi, menyisir getir di sebuah pertautan hati yang iba
Biarlah,
Biar wajahku sedikit layu, menunggu luka yang mengering
Biarkan mengerut, rehat sesaat, mengeja waktu
Meski bagai menampar udara kosong
Sambil rasakan perih teriknya rindu
'mungkin masih butuh airmata untuk menyemainya'
Tak apa, jika kumasih bisa menyusun lagu
Sampai kutemukan tanda yang mengunci mataku
Hingga musim berhenti di pelukmu
Inilah aku,
yang masih sembunyi di ekor senja, mengintip hatimu tanpa suara


0 comments:
Post a Comment