“Maafkan aku, Shafia.”
Bola mata ini terpaku, menatap lamat-lamat pria
di depanku. Matanya bulat beriris coklat dan tulang pipi yang menonjol. Rambutnya
yang sedikit menutupi dahinya tersingkap. Tiba-tiba kenangan yang merimbun daun
berguguran tepat di atas kelopak mata. Rasanya, seperti menggigit mangga yang
terlalu muda. Asam, kecut dan getir. Terlalu sakit mengingatnya.
“Bisakah kita kembali
seperti dulu, Sha?”
Kembali korneaku menelisik dalam-dalam ke matanya. Mencari—apakah ada
ketulusan di sana? Tapi rupanya mataku sudah merabun, Satria. Kanvas kita sudah
menghitam pekat. Tak ada alasan untuk tak kubuang. Bahkan ini terlalu
menyakitkan untuk kusimpan.
“Oiya, kamu gak keberatan kan aku ajak ke
tempat ini?”
Kutarik kembali ingatanku
sesaat ke masa itu. Ya, di tempat inilah peristiwa itu. Saat itu dia dengan mudahnya mengiyakan permintaanku
untuk mengakhiri pertunangan karena kupergoki dia sedang bersama wanita lain.
Mereka bergandengan tangan menuju café ini sambil tertawa-tawa. Pertunjukan itu
membuatku galau. Rasanya bagai
dibanting, dihempaskan, ditarik kemudian dibanting lagi. Menghampiri mereka
bagai menginjakkan kaki di tanah peperangan, namun tubuh ini sudah babak belur
sebelum kumulai perang itu.
“Ya
sudah putus saja. Pertunangan kita berakhir. Aku baru sadar, kamu itu terlalu
membosankan!”
Jleb! Ucapannya bagai mata tombak yang menancap perih tepat di dada, membuat sebuah
lubang yang menganga dan aku terperangkap di dalamnya. Bahkan, perempuan itu menonton dengan hati
yang puas, seolah aku ini korban yang kalah telak. Seringai senyumnya menyebalkan,. Jadi seperti
itu rasanya cemburu, panas yang menjalar sampai kepala, berdentum puluhan kali
di dada. Sesak! Bahkan aku hampir saja megap-megap karena kehabisan udara.
Tak
bisa berkata-kata. Aku berlari dalam hujan. Ingin mengutuk hati ini karena
merasa bagaimanapun aku membencinya, rasa ini tak mudah menguap begitu saja.
Menyedihkan ketika melihat ia seolah baik-baik saja. Lalu, bagaimana dengan air
mata yang jatuh begitu saja saat aku berjalan menjauh, kemudian tak ada yang mengejar
dan mencoba menghentikanku. Bodohnya aku!
Kini, setelah bosan dengan perempuan itu, ia memohon untuk kembali.
“Aku
pernah menyakiti kamu di sini, karena itu aku ingin memperbaiki semuanya di sini pula. Aku
butuh kamu dan berharap kamu kembali, Sha! Kamu ratusan kali lebih baik dari
Elsa.Aku menyesal!” ucapnya sambil menatap penuh harap.
Ah,
aku ingin tertawa sekencang-kencangnya. Dia begitu fasih melafalkan kata sesal.
Aku
mendengus. Jangan berharap sorot
intimidasimu itu menggoyahkanku, Satria. Bahkan secuil rasa pun sekarang tak
ada.
“Aku
akan menikah dengan pria lain, Satria.” ucapku sambil menyodorkan kartu undangan ungu dan memajang senyum penuh kemenangan.
--end--
Note : Jumlah 499 kata.
FF ini diikutsertakan dalam MFF Prompt #43 : Let's Move On


sekadar saran...
ReplyDeleteimho, endingnya akan lebih menghentak kalau waktu aku bilang “Aku akan menikah dengan pria lain, Satria.”, dilanjut sama menyodorkan sebuah undangan nikah antara aku dan pria lain itu.
saran aja, sih.. hehehe :D
iya ya, terpaku sama si 500 kata jd rada kesumbat otaknya wkwkwkwk, boleh edit ga ya :d
Deletekalo bicara soal move on, emang paling sering endingnya adalah penolakan atau kesudahan ya.
ReplyDeletebenul mba, puas bener rasanya :d. makasih ud mampir ya mba. ada masukan apa nih mba
DeleteWah setipe ff ku nih
ReplyDeletehihihihi...nanti aku mampir ke ff mu ya, Mba. thanks sudah mampir :)
Deletetambahkan dong ledakan ceritanya... *sumbang mercon :p
ReplyDeletekelamaan ngerakit bom jadi gini nih :D garing FF nya wkwkwk :d, mau deh disumbang mercon hehe
Deleteriak galau...... diksinya unik.... :)
ReplyDeletehehehe tapi itu aku ganti biar rada ada merconnya dikit :D
DeleteKartu undangannya selipin mercon dulu baru kasiin ke Satria hehehe :d
Deletekasihan si cowok udah berharap.. hehe
ReplyDeleteceritanya kog ngeri gitu kak :((
ReplyDelete