Ketika Gadget Menjadi Pengasuh



“Bunda, ayo pulang. Lama nih, Bunda!” rengek Zidan, anakku, sambil menarik-narik pinggir baju yang kupakai. Biasa banget dia tuh seperti ini. Di saat sudah mendapatkan barang yang ia mau, mulailah muncul tingkahnya yang terkadang menyebalkan. Padahal, sejak awal sudah dijelaskan bahwa bundanya ini akan mencari beberapa barang yang bisa jadi itu membuat dia bosan. Tadinya kami sudah sepakat soal ini,  namun pada kenyataannya ya begini ini.


“Sebentar, Aa. Tadi kan Bunda sudah bilang, hari ini Bunda banyak pesanan, makanya agak lama.”  bujukku sambil memeriksa beberapa pasang sepatu yang dipesan customer online shop. Kuintip dari sudut mata, wajahnya mulai cemberut, dagunya hampir menyentuh dada. Lucu sekali, gemes sampai ingin kutarik saja bibirnya. Selalu begini. Jurus membelikan  minuman yang ia suka sudah pun keluar di satu jam lalu. Trus apa lagi? Bahkan, beberapa karyawan supplierku mencoba mengajaknya bercanda, namun sia-sia. Kucoba lirik jam yang melingkar di lenganku. Ahaa..pantas!

“Ini kan jamnya Aa main, Bun!”

See? Jam lima  sore memang waktunya anakku ini bermain bersama teman-temannya. Tapi bukannya tadi pun soal ini sudah dibahas. Dan tadi ia sudah oke untuk masalah ini. Tapi kenapa sekarang merengek begini.
Jadi, kami sekarang ini sedang ada di sebuah toko tempat aku mengambil beberapa pesanan dari customer. Harusnya ia sekolah dan ini jam ia pulang. Setelah bubar kelas ia akan bermain bola dengan teman-temannya di lapangan sekolah. Kalaupun ia pulang cepat, jam lima itu selalu ia gunakan untuk bermain dengan teman di sekitar rumah. Tapi tidak untuk hari ini. Karena hari ini ia libur dan ada beberapa pesanan barang yang harus kukirim hari ini, terpaksa ia harus kubawa untuk mengambil beberapa barang pesanan itu

“Sebentar ya, A zidan. Kan tadi sudah tau Bunda mau ambil barang.”

“Iya, tapi Aa ngga tahu bakal selama ini. Ayo pulang, Bun!” rengeknya lagi. Heuheu kalau sudah bosan seperti ini, ia bisa lebih bawel dariku. Bisa-bisa tiap satu menit ia akan merengak. Susah kalau jam mainnya terusik begini. Eh tapi masih punya satu jurus andalan dong. Gagdet!

“Nah gitu dong, Bun. Kirain ngga dibawa!”

Dan aku mematung melihatnya yang langsung asik beradu tatap dengan gadgetnya itu. Ah, betapa seringnya aku memanfaatkan si gadget itu untuk mengatasi kerewelan anak. Bagai Shut Up Games yang kulakukan untuknya. Dan seringkali ini berhasil.

Sore ini setidaknya aku bisa belanja dengan tenang.

Tapi, sepanjang perjalanan pulang pikiranku berputar-putar di kepala, terus berpikir sudah seberapa seringnya aku menyerahkan pengasuhan pada si gadget saat diri ini menginginkannya untuk duduk diam dan tidak rewel. Kupikir ini jadi terlalu mudah baginya. Aku jadi takut ia beranggapan bahwa dengan ia bersikap rewel seperti tadi maka ia akan mendapat hadiah bermain gadget dariku. Dan aku mulai keasikkan juga dengan cara gadget membuat ia diam. Pintar sekali si gadget ini mengasuh anak.

Dan aku lupa satu hal, bahwa ini bisa jadi boomerang buat diri ini. Ah, Harus kurubah nih. Tak bisa begini terus. Aku tidak mau perilaku buruk ini terus terulang. Harus bisa stop memberikan gadget saat anak rewel! Ya benar, no more ‘shut up’ game!

*****
 “Bunda mau kemana?”

“Biasa, mau ambil pesanan.”

“Aa  ikut ya.”

“Kayanya agak lama deh. Nanti Aa bosen.”

“Gak apa-apa, Bun. Android bawa ya, Bun.”

Hohoho, sekarang tidak semudah itu ya, Nak!

“Kalau di sana nanti Aa mau main games, sekarang Aa kerjain PR buat besok dulu ya.”

“Nanti aja lah Bun PR nya. Lagian Bunda kan udah siap, nunggu Aa ngerjain PR lama loh, banyak!”

“Kalau gitu, no games ya.”

“Yahhh!”

Aku tersenyum saja melihatnya. Membiarkan dia merasakan kecewanya kemudian berpikir.

“Yaudah deh Aa kerjain dulu PR nya!”

“Good!”

Setidaknya saat nanti kukeluarkan benda kesayangannya itu, ia tahu bahwa itu adalah apresiasi dari perilaku baiknya. Supaya nanti yang ia ulangi  adalah perilaku baiknya. Dan aku tak perlu menunggu ia rewel untuk memberikan gadget, karena ia tahu ijin menggunakan gadget sudah ia dapatkan sejak di rumah karena ia sudah mengerjakan PR.

Anakku yang sekarang kelas 4 SD ini sebenarnya bukan seorang penggila gadget. Bahkan ia  menolak saat aku memberinya sebuah blackberry. Di saat semua teman-temannya membawa blackberry ke sekolah dan sibuk bertukar PIN, ia hanya sibuk bermain bola dan tak pernah perdulikan hal itu, bahkan meminta pun tidak.

“Ya udah, Aa  bawa handphone biasa aja ya. Bunda kan perlu untuk komunikasi kalau sewaktu-waktu Bunda telat jemput atau Aa pulang cepat.”

“Yaudah, Bunda jangan telat jemput. gitu aja, Bun!”

Glek. Aku menelan ludah.

“Atau kalau Aa pulang cepat, ya tinggal pulang sendiri aja. Gampang kan?!”                    

Begitulah ia. Dan sampai sekarang memang tak pernah membawa handphone ke sekolah. Hanya saja untuk urusan games yang ada di gadget itulah yang sering membuatku kesal. Bodohnya, ini terjadi sebenarnya karena ulahku juga. Tak jarang jika ia rewel dan merengek aku malah menyuruhnya main games supaya ia diam.

“Sudah nih Bun PR nya!” serunya bersemangat.

Aku terkesiap mendengar suaranya. “Baiklah, nanti Aa boleh main games yah.”

“Yess!”  Ia mengepalkan tangannya. Begitu saja sudah  senang juga rupanya ya. Kulihat bola matanya berkilat-kilat bahagia.

Aku belajar satu hal lagi, bahwa anak-anak itu suka sekali dengan pilihan sebenarnya. Kita tak perlu memberikan semua maunya. Cukup memberinya pilihan dan memberikan kesempatan padanya untuk mengambil keputusan. Dan mulai sekarang games dan gadget, aku akan memberikannya sebagai apresiasi saat ia berperilaku baik. Bukan semacam sogokan untuk membuat pekerjaanku jadi lebih mudah.

Jaman tekhnologi maju seperti sekarang memang ada kalanya sangat menguntungkan. Beberapa hal jadi terasa lebih mudah. Banyak aplikasi-aplikasi edukasi yang bisa digunakan untuk anak belajar. Tapi, tak sedikit juga konten negatif di dalamnya jika kita salah menggunakannya. Jadi, untuk anak-anak memang jangan terlepas dari pengawasan supaya bisa berefek baik untuk perkembangan anak.

“Bun, nanti Aa mau donlot games lagi ah. Beberapa games Aa udah bosan! Boleh ya, Bun. Kan aa udah ngerjain PR!”

Hadohhh anak jaman sekarang gak bisa lihat android nganggur yah, tukang ngabisin quota! Pulsa boros deh!

Euh..!


--- end ---

1 comments:

  1. Sama mba..hiks..anakku seneng main gadget..sekarang belum boleh main gadget Kalo belum makan, mandi dan baca buku/AlQuran dulu. Kita nya harus Tegas yaa

    ReplyDelete

Linkie ♥

iralyra

friendly, nice n kindheart person ... i think ... haha just be my friend n then u will know

Text Widget

Welcome!

Recent Comments

Powered by Blogger.

Followers

Popular Posts

 

Flickr Photostream

Twitter Updates

Meet The Author