UNTITLED





Aku memperhatikan kamu sejak beberapa bulan lalu. Sampai akhirnya aku jadi mengetahui beberapa lagu kesukaanmu. Maka aku sengaja membahas mengenai musik saat pertama bicara, dan tentang bagaimana kita bisa menyukai musik yang sama.

Tapi apa menurutmu penting jika kita menyukai musik yang sama? Dan bahwa kita juga samasama menyukai coffee. Sebut saja macchiato, caffe latte or cappucino. Bahkan berkhayal bisa menikmati segelas affogato bersama, kemudian berebut es krim yang tenggelam di kubangan esspresso-nya.

Nice ....

Dan apa kau ingat, when I was being so blue? Sepanjang hari bersamamu, and feel better. (Actually, I feel something at that time, and I thinks… it's better than having no feeling at all).

I feel alive, feel like human. Bagiku, hal itu yang luarbiasa. Sesekali kita berselisih paham, namun pada akhirnya yang terpenting adalah kebersamaan. Dan menemukan fakta-fakta kita pun mudah geli untuk hal sepele yang sama. Termasuk lupa diri ketika mengendus aroma espresso dari beberapa meter jauhnya. Saling menatap dan katakan, "Coffee!" Kamu pasti melihat mataku langsung membulat berbinar-binar dan kepulan uap esspresso itu serasa muncul di atas kepala.

Lalu seperti sekarang, sama-sama duduk tenang di tepian jendela, menikmati semburat oranye di langit. Saling terdiam, menunggu senja mengatakan sesuatu yang indahindah untuk kita berdua. Atau mungkin saling menunggu masingmasing dari kita mengatakan sesuatu. Kamu canggung, begitu pula aku. Asal kamu tahu, kecanggungan tak pernah ada untuk dua orang yang tak ada apaapa.

Dan setelah semua itu, apa menurutmu fakta-fakta itu adalah isyarat, yang kita tahu ...

bahwa itu pasti berarti sesuatu?

Katakan, Sayang. Sebelum habis kopi, sebelum habis waktu kita.

Because, this maybe the new term of love that we've just found out.

"Kamu suka spagheti carbonara?" tanyamu memecah keheningan, membuyarkan puzzle-puzzle di kepalaku.

"Sepertinya kamu hobi membuatku gemuk!"

"Itu artinya kamu mau ...."

"Oh my ... baiklah siapa takut, semua akan melar pada waktunya!"

Kamu tergelak. Dan aku merekam tawamu dalam ingatan. Suaramu meninabobokan kesedihan, dan menghindarkan aku dari kesesakkan.

Dan fakta bahwa kita masih bertahan sampai detik ini tak lain adalah karena kita masih mencari jawaban. Tak perlu bertanya apa kita bahagia. Sebab pijaran senyuman di bibir kita sudah cukup mengartikannya.

Mungkin cinta dan kegilaan memang mirip adanya. Setidaknya, sekarang aku tahu, kalimat "Miss you like crazy" itu rupanya nyata.

Senyata dua gelas kopi di meja kita dengan jemari yang saling bertautan. Saling menatap dan mencoba berpesta dengan suara-suara yang muncul di kepala.

"Miss you and love you, Dear ...." lirihmu pelan. Akhirnya kamu katakan juga.

Aku tersenyum. Serasa melayang. Rongga dadaku serasa ada badai pasir berdesir-desir. Menghadirkan rasa yang tak bisa kubilang biasa saja. Dan sungguh, ekspetasiku jadi malas menginjak bumi, ia terbang tinggi. Semoga saja tak ada senyum manis yang menjadi korban. Karena berjuta pengalaman cinta tak pernah cukup menahan jatuhnya harapan di tempat sedalam jurang.

"Miss you too ...." jawabku

Kau tersenyum. Dan jantungku bergeming di sana. Begitu saja. Sederhana bukan? Sesederhana waktu meninggalkan kita.

Sore ini, senja sempurna memeluk kita.

[Depok, 311014]


[Affogato, a scoop of vanilla ice cream drowned in a shot of hot espresso. i think its so much fun to eat. slurrppp]

Well, rasanya foto kurang nyambung sama tulisan. Dont care lah, lagi emoohh banget cari2 gambar. Yang ada aja, tapi ko ya jadi ngiler (puasaaa oy).

:D


0 comments:

Post a Comment

Linkie ♥

iralyra

friendly, nice n kindheart person ... i think ... haha just be my friend n then u will know

Text Widget

Welcome!

Recent Comments

Powered by Blogger.

Followers

Popular Posts

 

Flickr Photostream

Twitter Updates

Meet The Author